Rabu, 01 Februari 2012

PENDIDIKAN DAN REKAYASA



PENDIDIKAN adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan,akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara. ( UU sisdiknas tahun 2003 )
Tapi apakah semua itu sudah sesuai dengan harapan kita semua? sementara banyak kita jumpai di berbagai media massa mengenai pemberitaan yang berkaitan dengan dunia pendidikan,tawuran antar pelajar, perkelahian antar geng sekolah, bahkan yang lebih buruk lagi adalah tindakan asusila baik yang dilakukan siswa, maupun guru.
Ada pepatah mengatakan “ buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya”. Akan tetapi dilain sisi kalau kita amati secara akademik siswa-siswa SD, SMP, maupun SMA memiliki kemampuan yang lebih, terbukti dengan penerapan standar kelulusan yang selalu berubah tapi anak – anak kita bisa mencapainya bahkan bisa melabihi dari standar kelulusan yang sudah ditetapkan. Bahkan dalam dua tahun belakangan ini sekolahan juga diikut sertakan dalam kelulusan peserta didiknya dengan membuat nilai S/M yaitu nilai sekolah yang dihitung dari nilai siswa semester 3, 4, dan 5 serta nilai UAS.Semakin tinggi nilai sekolah yang didapat maka semakin ringan dalam mengerjakan Ujian Nasional nantinya. Bagaimana dengan nilai yang meraka dapat tiap semesternya? Padahal sudah pasti setiap semesternya nilai mereka harus tuntas bagaimanapun caranya. Menyontek, ngerpek, belum tuntas juga ? Kasih tugas saja. Ya begitu lah…..
UJIAN NASIONAL
Tidak berhenti sampai di situ saja, ternyata dalam pelaksanan ujian nasional sendiri tidak kalah buruknya pelaksanaannya,dengan alasan “mereka adalah anak bangsa yang memerlukan masa depan yang cerah”. Melobi pengawas ruang agar tidak terlalu ketat dan bahkan membiarkan siswa untuk menyontek,mengerpek bahkan mendapatkan jawaban dari guru mapelnya asal tidak bersuara itu yang biasa dilakukan sekolah untuk meluluskan anak didiknya.
Lulus 100% adalah kebanggaan tersendiri bagi sekolahan tersebut, yang perlu kita perhatiakan bahwa antara perasaan bangga dengan gengsi ternyata mempunyai perbedaan yang tipis. Seharusnya  bangga apabila hasil yang dicapai merupakan impact kerja keras guru selama tiga tahun, dan keinginan siswa sendiri untuk maju dan berkembang dalam hal pendidikan. Gengsi apabila hasil yang dicapai merupakan hasil “kerjasama”.
Kalau hal ini masih terus berjalan tidak mungkin terwujud pendidikan yang merupakan usaha sadar dan terencana agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya.
D.Wangbang.S

Tidak ada komentar:

Posting Komentar